Rabu, 31 Juli 2013

Makalah Fotografi

1. BAB I PENDAHULUAN
Sejak diperkenalkannya fotografi pada tahun 1826, dimana pada saat itu fotografi dikenalsebagai kajian ilmu yang sangat baru dan awam bagai masyarakat dunia. Seiring berjalannyawaktu dan jaman kini fotografi perkembangannya demikian pesat. Perkembangan teknologiyang canggih pengambilan gambar saat ini bisa dilakukan setiap hari hampir 24 jam, denganteknik pencahayaan pengambilan gambar akan terlihat mudah.Mata kuliah fotografi merupakan suatu bidang kajian ilmu yang dipelajari dalam perkuliahandi jurusan Ilmu Komunikasi konsentrai Hubungan Masyarakat. Kajian fotografi ini sebagaibagian dari kegiatan humas untuk memberikan pengetahuan secara praktis dan teoritisbagaiman menggunakan seuatu kamera, serta mendapatkan gambar atau potret yangmemberikan makna pemberian pesan yang lebih efektif dalam setiap informasi yang akandisampaikan oleh seorang Humas.Dalam kajian fotografi ini akan membahas tentang sejarah awal mulanya fotografi,pengertian fotografi, anatomi kamera, pencahayaan, serta proses dan teknik pengambilangambar.

2. BAB II PEMBAHASAN
Pengertian Fotografi Fotografi (dari bahasa Inggris: photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu"Fos" : Cahaya dan "Grafo" : Melukis/menulis.) adalah proses melukis/menulis denganmenggunakan media cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metodeuntuk menghasilkan gambar atau foto dari suatu obyek dengan merekam pantulan cahayayang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untukmenangkap cahaya ini adalah kamera. Tanpa cahaya, tidak ada foto yang bisa dibuat.Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan bantuan pembiasan sehingga mampumembakar medium penangkap cahaya. Medium yang telah dibakar dengan ukuran luminitascahaya yang tepat akan menghailkan bayangan identik dengan cahaya yang memasukimedium pembiasan (selanjutnya disebut lensa).Contoh salah satu hasil karya fotografi :(Foto hitam putih hasil karya fotografer Indonesia, Hengky Koentjoro)Untuk menghasilkan intensitas cahaya yang tepat untuk menghasilkan gambar, digunakanbantuan alat ukur berupa lightmeter. Setelah mendapat ukuran pencahayaan yang tepat,seorang fotografer bisa mengatur intensitas cahaya tersebut dengan mengubah kombinasiISO/ASA (ISO Speed), diafragma (Aperture), dankecepatan rana (speed). Kombinasi antaraISO, Diafragma & Speed disebut sebagai pajanan (exposure).

3. Di era fotografi digital dimana film tidak digunakan, maka kecepatan film yang semuladigunakan berkembang menjadi Digital ISO.Sejarah Fotografi Di Dunia Dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University ofNew Mexico Presstahun 1991, disebutkan bahwa pada abad ke-5 Sebelum Masehi (SM),seorang lelaki bangsa Cina bernama Mo Ti sudah mengamati sebuah gejala fotografi. Apabilapada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang kecil (pinhole), maka di bagian dalamruang itu pemandangan yang ada di luar akan terefleksikan secara terbalik lewat lubang tadi.Selang beberapa abad kemudian, banyak ilmuwan menyadari serta mengagumi fenomenapinhole tadi. Bahkan pada abad ke-3 SM, Aristoteles mencoba menjabarkan fenomenapinhole tadi dengan segala ide yang ia miliki, lalu memperkenalkannya kepada kyalayakramai. Aristoteles merentangkan kulit yang diberi lubang kecil, lalu digelar di atas tanah danmemberinya jarak untuk menangkap bayangan matahari. Dalam eksperimennya itu, cahayadapat menembus dan memantul di atas tanah sehingga gerhana matahari dapat diamati.Khalayak pun dibuat terperangah.Percobaan-demi percobaan terus berlanjut, sampai akhirnya William Henry Talbott dariInggris pada 25 Januari 1839 memperkenalkan lukisan fotografi yang juga menggunakankamera obscura, tapi ia membuat foto positifnya pada sehelai kertas chlorida perak.Kemudian, pada tahun yang sama Talbot menemukan cikal bakal film negatif modern yangterbuatdari lembar kertas beremulsi, yang bisa digunakan untuk mencetak foto dengan cara.Teknik ini juga bias digunakan untuk cetak ulang layaknya film negatif modern. Proses inidisebut Calotype yang kemudian dikembangkan menjadi Talbotypes. Untuk menghasilkangambar positif, Talbot menggunakan proses Saltprint. Gambar dengan film negatif pertamayang dibuat Talbot pada Agustus 1835 adalah pemandangan pintu perpustakaan di rumahnyadi Hacock Abbey,Wiltshire, Inggris.Foto paling pertama yang ada di surat kabar adalah foto tambang pengeboran minyakShantytown yang muncul di surat kabar New York Daily Graphic di Amerika Serikat padatanggal 4 Maret 1880. Foto itu adalah karya Henry J Newton. Fotografi kemudianberkembang dengan sangat cepat. Menurut Szarkowski dalam Hartoyo (2004: 22), arsitekutama dunia fotografi modern adalah seorang pengusaha bernama George Eastman. Melaluiperusahaannya yang bernama Kodak Eastman, George Eastman mengembangkan fotografidengan menciptakan serta menjual roll film dan kamera boks yang praktis. Saat itu, dunia

4. fotografi sudah mengenal perbaikan lensa, shutter,film, dan kertas foto. Penemuan-penemuantersebut telah mempermudah orangmengabadikan benda-benda yang berada di depan lensadan mereproduksinya. Dengan demikian, para fotografer, baik amatir maupun profesional,bisa menghasilkansuatu karya seni tinggi tanpa terhalang oleh keterbatasan teknologi.Pada Tahun 1900 seorang juru gambar telah menciptakan kamera Mammoth. Ukuran kameraini amat besar. Beratnya1,400 pon, sedangkan lensanya memiliki berat 500 pon. Untukmengoperasikan ataumemindahkannya, sang fotografer membutuhkan bantuan 15 orang.Kamera ini menggunakan film sebesar 4,5 x 8 kaki dan membutuhkan bahan kimia sebanyak10galon ketika memprosesnya. Lalu, pada tahun 1950, pemakaian prisma untuk memudahkanpembidikan pada kamera Single Lens Reflex (SLR) mulairamai. Dan di tahun yang sama,Jepang mulai memasuki dunia fotografi dengan memproduksi kamera NIKON.Sejarah Fotografi Di Indonesia Perkembangan fotografi di Indonesia selalu berkaitan dan mengalir bersama momentumsosial-politik perjalanan bangsa ini, mulai dari momentum perubahan kebijakan politik kolonial,revolusi kemerdekaan, ledakan ekonomi di awal 1980-an, sampai Reformasi 1998.Dibutuhkan waktu hampir seratus tahun bagi bangsa ini untuk benar-benar mengenal duniafotografi. MasuknyaJepang pada tahun 1942 telah menciptakan kesempatan bagi bangsaIndonesia untukmenyerap teknologi ini. Demi kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatihorang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka,Domei. Pada saat itulahmuncul nama Mendur Bersaudara.Frans Soemarto Mendur (1913 - 1971) bersama kakaknya, Alex Mendur, juga menjadi icon bagidunia fotografer nasional. Mereka kerap merekam peristiwa-peristiwa penting bagi negeri ini,salah satunya adalah mengabadikan detik-detik pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RepublikIndonesia. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar "sampai" ke Indonesia, ketika kameraberpindah tangan dan orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri. Merekalah yangmembentuk imaji baru tentang bangsa Indonesia. Lewat fotografi, Mendur bersaudara berusahamenggiring mental bangsa ini menjadi bermental sama tinggi dan sederajat dengan bangsa lain.Perkembangan Fotografi di Indonesia Di Indonesia perkembangan fotografi tampak dengan semakin banyakny jumlahpenggemar fotografi, tumbuhnya klub-klub fotografi, serta semakin banyaknya digunakanmedia fotografi sebagai alat atau sarana penunjang berbagai kegiatan seperti pada mediamassa, bidang perdagangan, pendidikan, ilmu pengetahuan, hukum, kedokteran, hiburan,

5. seni/budaya, dan lain-lain. Berawal dari kedatangan seorang pegawai kesehatan Belanda padatahun 1841 , atas perintah Kementerian Kolonial, mendarat di Batavia dengan membawadauguerreotype. Juriaan Munich, nama ambtenaar itu, diberi tugas “to collect photographicrepresentations of principal views and also of plants and other natural objects” (Groeneveld1989). Tugas ini berakhir dengan kegagalan teknis. Di Holand Tropika, untuk menyebutwilayah mereka di daerah tropis, Munich kelabakan mengendalikan sensitivitas cahaya platyang dibawanya, dihajar oleh kelembapan udara yang mencapai 90 persen dan terik matahariyang tegak lurus dengan bumi. Foto terbaik yang dihasilkannya membutuhkan waktuexposure 26 menit.Terlepas dari kegagalan percobaan pertama di atas, bersama mobil dan jalanan beraspal,kereta api dan radio, kamera menjadi bagian dari teknologi modern yang dipakai PemerintahBelanda menjalankan kebijakan barunya. Penguasaan dan kontrol terhadap tanah jajahantidak lagi dilakukan dengan membangun benteng pertahanan, penempatan pasukan danmeriam, tetapi dengan membangun dan menguasai teknologi transportasi dan komunikasimodern. Dalam kerangka ini, fotografi menjalankan fungsinya lewat pekerja administrativecolonial, pegawai pengadilan, opsir militer dan misionaris.Latar inilah yang menjelaskan, mengapa selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia(1841-1941) penguasaan alat ini secara eksklusif berada di tangan orang Eropa, sedikit orangChina dan Jepang. Survei fotografer dan studio foto komersial di Hindia Belanda 1850-1940menunjukkan dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, terdapat 315 nama Eropa, 186China, 45 Jepang dan hanya 4 nama “lokal”: Cephas di Yogyakarta, A Mohamad di Batavia,Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon.Sedangkan bagi penduduk lokal, keterlibatan mereka dengan teknologi ini adalah sebagaiobyek terpotret, sebagai bagian dari properti kolonial. Mereka berdiri di kejauhan, disertaiketakjuban juga ketakutan, melihat tanah mereka ditransfer dalam bidang dua dimensi yangmudah dibawa dan dijajakan. Kontak langsung mereka dengan produksi fotografi adalahsebagai tukang angkut peti peralatan fotografi. Pemisahan ini berdampak panjang padawacana fotografi di Indonesia di kemudian hari, di mana kamera dilihat sebagai perekampasif, sebagai teknologi yang melayani kebutuhan praktis.Dibutuhkan hampir seratus tahun bagi kamera untuk benar-benar sampai ke tangan orangIndonesia. Masuknya Jepang tahun 1942 menciptakan kesempatan transfer teknologi ini.Masuknya Jepang pada 1942 menciptakan kesempatan transfer teknologi ini. Karenakebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untukbekerja di kantor berita mereka, Domei. Mereka inilah, Mendur dan Umbas bersaudara, yang

6. membentuk imaji baru Indonesia, mengubah pose simpuh di kaki kulit putih, menjadimanusia merdeka yang sederajat. Foto-foto mereka adalah visual-visual khas revolusi, penuhdengan kemeriahan dan optimisme, beserta keserataan antara pemimpin dan rakyat biasa.Inilah momentum ketika fotografi benar-benar “sampai” ke Indonesia, ketika kameraberpindah tangan dan orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri.(ref:sejarahfotografi Indonesia).Itulah catatan sejarah fotografi yang berkembang di Indonesia.hingga sampai saat iniperkembangan dunia fotografi di Indonesia sangat berkembang dengan pesatnyaFOTOGRAFI JURNALISTIKTerdapat beberapa pengertian mengenai fotografi jurnalistik yang dikemukakan oleh para ahlifotografi. Menurut Hanapi yang dimaksud dengan fotografi jurnalistik yaitu kegiatanfotografi yang bertujuan merekam jurnal peristiwa-peristiwa yang menyangkut manusia.Wilson Hick dalam bukunya Word and Picture memberi batasan fotografi jurnalistik adalahmedia komunikasi verbal dan visual yang hadir bersamaan. Sedangkan Soelarkomendefinisikan foto jurnalistik sebagai foto berita atau bisa juga disebut sebagai sebuahberita yang disajikan dalam bentuk foto. Sementara itu Oscar Motuloh, fotografer senior BiroFoto LKBN Antara Jakarta menyebut foto jurnalistik adalah medium sajian untukmenyampaikan baragam bukti visual atas suatu peristiwa pada suatu masyarakt seluas-luasnya, bahkan hingga kerak dibalik peristiwa tersebut, tentu dalam waktu yang sesungkat-singkatnya. Dilihat dari beberapa pengertian yang ada maka foto jurnalistik dapat disebutsebagai suatu sajian dalam bentuk foto akan sebuah peristiwa yang terjadi, di mana peristieatersebut berkaitan dendan apek kehidupan manusia dan disampaikan guna kepentinganmanusia itu sendiri. Kepentingan manusia dalam hal ini berupa kebutuhan akan informasiatau juga beita yang terjadi di seluruh belahan bumi ini.Contoh Fotografi JurnalistikMemegang Rambut Wapres

7. Pegang Rambut - Ibu-ibu berlarian untuk berebut bersalaman dengan Wapres Jusuf Kalla. Namun salah satu darimereka justru memegang rambut Wapres. Foto ErfanHazransyah, foto diambil pada 7 April 2008Fotojurnalistik 1. Foto yang merepresentasikan kenyataan yang terjadi saat foto dibuat. 2. Potret orang di lingkungannya. Tidak ada manipulasi digital, dan subjek bukan model dan tidak dibayar atau diberikan imbalan dalam pembuatan foto. 3. Foto yang di stel secara digital, namun tidak berlebihan. Penyetelan terangnya atau kontras foto tidak mengubah kenyataan di lapangan. Mempertajam foto diperbolehkan asal tidak berlebihan. 4. Manipulasi foto diperbolehkan sebatas membersihkan debu atau goretan di foto akibat scan. 5. Membuat foto panorama dengan menggabungkan beberapa foto menjadi satu. 6. Foto hitam putih yang tidak diberi warna.Yang Bukan Fotojurnalistik 1. Secara digital mengubah subjek foto misalnya mengubah bentuk subjek, menghapus cacat pada wajah seperti jerawat, kotoran, dan lain lain. 2. Menggabungkan dua foto ata lebih dalam satu foto. 3. Manipulasi foto baik warna, keterangan, kontras, saturasi yang mengubah realitas yang dilihat fotografer atau orang lain yang hadir saat foto diambil. 4. Subjek merupakan model yang dibayar atau diberi imbalan untuk partisipasi mereka untuk diambil fotonya. 5. Foto yang terlihat candid tapi ada elemen-elemen dimana subjek diposisikan secara khusus oleh fotografer. 6. Foto dimana subjek memakai pakaian, peralatan atau aksesoris yang disediakan fotografer.

8. BAB III KESIMPULANFotografi seperti yang kita kenal sekarang adalah hasil dari penemuan. Yang pertama dalambidang ilmu alam menghasilkan kamera, yang kedua dalam bidang kimia menghasilkan film.Asal mulanya kedua penemuan itu tidak ada hubungannya satu sama lain dan sebelummasing – masing sampai kepada kesempurnaannya seperti yang telah kita kenal sekarangserta melahirkan penemuan baru yaitu fotografi, telah panjang yang ditempuh baik olehkamera maupun oleh film.Untuk mendalami bidang fotografi, siapa pun harus punya pengetahuan dasar yang baiktentang cahaya (light). Hal ini penting karena cahaya memegang kunci utama dalampenentuan eksposur yang diatur oleh shutter dan aperture pada kamera. Setelah memahamitentang cahaya, tahap selanjutnya adalah mengerti tentang pencahayaan (lighting) sehinggamampu menghasilkan foto yang lebih baik dalam berbagai kondisi pemotretan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar